MediaMerdeka.com – Nilai tukar rupiah masih jatuh ke jurang, bahkan semakin dalam. Nasib mata uang Garuda kini masih masih belum menentu lantaran mendapat tekanan dari berbagai sentimen.
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan pada hari ini rupiah terkapar mendekati level Rp18.000 per dolar AS, atau berada di posisi Rp17.965 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini terjadi secara terus-menerus sejak awal tahun. Hingga Juni 2026, depresiasi nilai tukar rupiah telah mencapai 4,28 persen.
Loyonya rupiah tentu menyerahkan efek berantai ke berbagai sektor, terutama terhadap harga-harga kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar.
Alasan Mendasar Rupiah Loyo
Banyak faktor yang menyebabkan rupiah merosot tajam. Namun, hal yang teramat mendasar merupakan tingginya permintaan terhadap dolar AS.
Pengamat mata uang Ariston Tjendra menerangkan, kondisi perang yang masih penuh ketidaktentuan menciptakan investor mencari aset valuta asing yang dianggap teramat kuat dan menguntungkan, salah satunya dolar AS.
Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat dan mendorong penguatan mata uang tersebut. Kondisi ini sesuai bersama hukum ekonomi, di mana kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan harga.
“Situasi masih masih belum beres di Timur Tengah, masih masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dolar AS masih kuat sebagai aset safe haven,” ujarnya saat dihubungi MediaMerdeka.com, Rabu (3/6/2026).
Sampai Kapan Rupiah Melemah?
Tidak ada yang dapat mengonfirmasi sampai kapan nilai tukar rupiah akan terus melemah. Namun, Ariston memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut.
Apalagi, konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih belum memperlihatkan tanda-tanda menuju kesepakatan damai. Kondisi tersebut menciptakan investor terus mencari instrumen investasi yang makin aman.
“Soal pelemahan sampai berapa, ya tetap terbuka selama faktor pemicu utama masih belum hilang. Rupiah melemah ke Rp 18.000-Rp 18.500 masih terbuka,” imbuhnya.
Dampak Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah bukan tanpa dampak. Efeknya bahkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar kelas menengah dan bawah.
Indonesia masih bergantung pada impor demi sejumlah kebutuhan. Karena itu, ketika nilai tukar rupiah melemah, harga berbagai barang berpotensi ikut naik.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut harga barang konsumsi dan bahan bakar minyak (BBM) berpotensi meningkat. Dampaknya, masyarakat sekitar menjadi makin berhati-hati dalam berbelanja yang pada akhirnya mencerminkan melemahnya daya beli.
Menurut Ibrahim, gejala pelemahan daya beli telah mengawali terlihat. Salah satunya dari sejumlahnya pusat perbelanjaan atau toko yang sepi pengunjung.
“Sekarang itu berbeda sekali bersama yang dulu. Pada saat rupiah masih di Rp16.000, namun pada saat mendekati Rp18.000 ini amat terasa. Nah kebarangkalian besar di bulan Juli itu harga-harga ini akan kembali merasakan kenaikan,” ucapnya.
Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?
Masyarakat sebenarnya tidak perlu terlalu risau menyikapi pelemahan rupiah. Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan demi mengelola keuangan di tengah kondisi tersebut.
Ibrahim menyarankan agar masyarakat sekitar mengawali menekan pengeluaran yang tidak perlu. Untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat sekitar sebaiknya membeli secukupnya dan tidak menjalankan penimbunan atau belanja bermakinan.
Menurut dia, perubahan perilaku konsumsi ini telah mengawali terlihat di kalangan pekerja kantoran. Banyak yang kini memilih mengangkut bekal makanan dari rumah dibanding membeli makan di luar.
“Artinya apa? Mereka kumpul di kantin, mereka bawa bekal sendiri dan mereka makan di situ. Hanya membeli barangkali ala kadarnya yang ada di kantin. Nah ini telah ada perubahan-perubahan yang cukup mendalam,” katanya.
Kesimpulannya, masyarakat sekitar tetap memiliki berbagai pilihan demi menyikapi pelemahan nilai tukar rupiah. Yang terpenting merupakan mengelola pengeluaran secara bijak, menghindari perilaku konsumtif, serta menyiapkan dana cadangan demi menyikapi ketidaktentuan ekonomi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

