MediaMerdeka.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, memasuki hari ke-10.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen aparat TNI Suharyanto mengungkap tiga faktor yang menciptakan proses pemadaman api di kawasan Bromo tersebut tak mudah.
Suharyanto menyebutkan, kendala pertama merupakan kondisi medan. Titik api berada di kawasan bersama ketinggian dan kemiringan lereng yang amat curam.
“Titik api berada di ketinggian bersama sudut kemiringan curam hingga 80 derajat, berakibat tidak mebarangkalikan untuk tim darat demi menjangkau lokasi demi keselamatan jiwa para personel,” kata Suharyanto usai menyaksikan kondisi lapangan pascakebakaran di Probolinggo, Jawa Timur.
Kondisi tersebut menciptakan penanganan tidak dapat sepenuhnya mengandalkan personel di darat. BNPB pun mengandalkan dukungan dari udara demi menjangkau titik-titik yang sulit diakses.
Kendala kedua merupakan terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Saat ini, kebutuhan air demi armada pemadaman masih mengandalkan pasokan dari Ranu Pani.
Sementara kendala ketiga berkaitan bersama cuaca. Kondisi atmosfer pada saat ini masih belum mebarangkalikan pihak pemerintah langsung menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) demi memicu hujan di kawasan yang terbakar.
Meski demikian, BNPB mendapat proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai peluang pertumbuhan awan hujan pada pertengahan Agustus.
“Berdasarkan penjelasan BMKG, terdapat potensi awan hujan pada 14–16 Agustus. Jika potensi tersebut dikonfirmasi, BNPB akan dalam waktu dekat menggelar Operasi Modifikasi Cuaca agar hujan dapat diturunkan secara optimal di area terdampak,” ujar Suharyanto.
889 Hektare Lahan Terbakar
Hingga kini, luas lahan yang terdampak karhutla di kawasan TNBTS mencapai 889 hektare.
Kebakaran tersebut tersebar di empat wilayah administratif, yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi maupun kabupaten/kota kini menargetkan pemadaman di dua titik utama dapat diberakhirkan pada Jumat mendatang.
Target tersebut juga berkaitan bersama kebutuhan armada udara demi menangani potensi karhutla di wilayah lain.
“Saat ini ada tiga unit helikopter water bombing yang disiagakan. Begitu dua titik di Bromo ini sukses dipadamkan bersama target hari Jumat, dua unit armada akan dalam waktu dekat kita geser demi mendukung operasi pemadaman di daerah lain yang juga membutuhkan dukungan udara,” kata Suharyanto.
Dengan strategi tersebut, BNPB menginginkan penanganan kebakaran di Bromo dapat dalam waktu dekat dituntaskan berakibat armada water bombing tidak terlalu lama terkonsentrasi di satu lokasi dan dapat dialihkan demi memperkuat penanganan bencana di daerah lain.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

