Bawa Cerita Lokal ke Panggung Dunia, Menteri Ekraf Dorong Lahirnya Gadis Kretek Baru

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ingin semakin sejumlah karya sastra Indonesia menembus pasar internasional dan berkembang menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi. Kesuksesan novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala yang diadaptasi menjadi serial Netflix menjadi salah satu contoh potensi tersebut.

“Kami ingin semakin sejumlah lahir Andrea Hirata baru, Ratih Kumala baru, dan Eka Kurniawan baru. Penulis-penulis Indonesia memiliki kekayaan gagasan, imajinasi, dan cerita yang layak dikenal makin luas. Semoga dari festival ini, akan makin sejumlah lagi ‘Gadis Kretek’ baru,” ujar Teuku Riefky dalam Literaia: Festival Literasi Nasional 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dalam keterangan tertulisnya Rabu (14/10/2026).

Menurut Teuku Riefky, karya sastra tidak sewajibnya berhenti pada penerbitan buku. Cerita yang memiliki kekuatan dan ciri khas lokal berpeluang dikembangkan menjadi film, serial, komik, hingga produk kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) yang menjangkau pasar global.

Karena itu, Keaparatur negara kementerianan Ekonomi Kreatif berupaya memperkuat ekosistem literasi melalui kolaborasi, pembukaan akses pasar, serta perlindungan dan komersialisasi kekayaan intelektual.

“Tugas kami memperkuat ekosistemnya, memfasilitasi kolaborasi, membuka akses pasar, serta mendorong perlindungan dan komersialisasi IP atau menjadikan karya jadi uang. Jadi karya anak bangsa dapat menjangkau dunia dan menyerahkan manfaat ekonomi untuk penciptanya,” katanya.

Gadis Kretek Jadi Contoh Potensi Sastra Indonesia

Kesuksesan Gadis Kretek memperlihatkan bagaimana cerita yang berakar pada sejarah dan budaya Indonesia dapat menjangkau penonton lintas negara.

Novel karya Ratih Kumala yang terbit pada 2012 itu diadaptasi menjadi serial Netflix dan tayang pada 2 November 2023. Berdasarkan data Netflix periode 6–12 November 2023, serial tersebut menempati peringkat ke-10 dalam daftar Top 10 serial TV nonbahasa Inggris global, bersama 1,6 juta penayangan dalam sepekan.

Serial yang disutradarai Kamila Andini dan Ifa Isfansyah itu mengangkat kisah Dasiyah atau Jeng Yah, wanita yang berambisi meracik saus kretek di tengah industri yang didominasi pria. Dian Sastrowardoyo memerankan tokoh utama tersebut.

Ratih juga terlibat dalam penulisan naskah adaptasi. Menurutnya, penerimaan penonton internasional menjadi salah satu hal penting lantaran memperlihatkan cerita bersama konteks lokal dapat dipahami oleh audiens global.

“Karya ini diterima oleh penonton global, dan mereka dapat memahami cerita maupun konteksnya, buat saya, itu yang terpenting,” kata Ratih.

Ia menilai, karya yang ingin menjangkau penonton internasional perlu memiliki ciri khas lokal yang menciptakannya menonjol. Dengan begitu, kesuksesan di pasar global bukan semata-mata bergantung pada keberuntungan.

Potensi pengembangan karya sastra menjadi kekayaan intelektual menjadi salah satu fokus Literaia: Festival Literasi Nasional 2026 yang berlangsung pada 11–14 Oktober 2026.

Festival yang diselenggarakan Keaparatur negara kementerianan Ekonomi Kreatif ini mempertemukan penulis, penerbit, komunitas literasi, dan tersangka industri kreatif demi membahas pengembangan karya serta peluang memasuki pasar yang makin luas.

Sejumlah agenda membahas hubungan sastra bersama film, pengembangan buku anak, agensi buku, komik lokal di pasar digital internasional, hingga strategi mengangkut penulis Indonesia ke panggung dunia. Lokakarya penyusunan logline dan pitch deck juga digelar demi menolong peserta menawarkan karya kepada produser film.

Selain Gadis Kretek, karya Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang terbit pada 2005 dan diadaptasi menjadi film pada 2008 turut memperlihatkan potensi cerita Indonesia demi berkembang ke medium lain. Karya-karya Eka Kurniawan juga telah menjangkau pembaca internasional melalui penerjemahan ke berbagai bahasa.

Melalui penguatan ekosistem tersebut, Keaparatur negara kementerianan Ekonomi Kreatif menginginkan semakin sejumlah karya penulis Indonesia memperoleh kesempatan demi diterbitkan, diadaptasi, dan dipasarkan ke luar negeri.

Pengembangan IP sastra juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru untuk penulis dan tersangka industri kreatif, sekaligus memperluas jangkauan cerita Indonesia di tingkat global.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *