Di Balik Viral Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung: Tradisi Adat atau Simbol Politik?

admin
By
admin
7 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Langkah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mendadak menjadi perhatian publik saat memasuki karpet merah dalam prosesi adat di Lampung, Sabtu (27/6/2026).

Mengenakan pakaian adat Lampung lengkap, Jokowi berhenti sejenak di hadapan kepala kerbau yang telah diletakkan di atas hamparan karpet. Sesaat lalu, ia menginjak kepala kerbau tersebut sebagai untukan dari rangkaian prosesi adat semasih belum menyambut baik gelar kehormatan tertinggi dari lima kerajaan adat di Lampung.

Potongan video berdurasi singkat itu lalu menyebar luas di media sosial. Ada yang penasaran bersama makna ritual tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang mengaitkannya bersama dinamika politik nasional.

Di hadapan para tokoh adat, Jokowi menyampaikan apresiasinya atas penghormatan yang diberikan kepadanya.

“Saya menyampaikan rasa terima kasih terdalam kepada Yang Mulia Sultan Sekala Brak beserta seluruh jajaran tokoh adat. Saya amat menghormati dan menghargai budaya yang terus kita jaga dan lestarikan bersama,” ujar Jokowi.

Hingga prosesi berakhir, masih belum ada penjelasan resmi dari Jokowi maupun panitia mengenai filosofi ritual menginjak kepala kerbau yang menjadi sorotan tersebut.

Ritual Injak Kerbau: Mesol Kibau

Mesol Kibau, atau ritual menginjak kepala kerbau, merupakan salah satu puncak prosesi sakral dalam upacara adat Cakak Pepadun masyarakat sekitar Lampung Pepadun, termasuk di wilayah Menggala.

Tradisi ini dilaksanakan secara khusus saat ritual Begawi, yakni momen sakral penobatan seseorang demi menyandang gelar pemimpin adat tertinggi (Penyimbang).

Kerbau yang dipihak korbankan bukan sekadar pelengkap pesta, melainkan simbol kemakmuran dan kesiapan fisik untuk sang calon pemimpin semasih belum ia menduduki singgasana pepadun.

Secara filosofis, tindakan menginjak kepala kerbau ini mengandung makna mendalam tentang pengendalian diri untuk seorang pemimpin baru.

Ritual ini menyimbolkan tekad kuat sang Penyimbang demi menundukkan dan membuang jauh-jauh sifat-sifat buruk kebinatangan, bagaikan ketamakan, keangkuhan, dan nafsu amarah.

Melalui Mesol Kibau, masyarakat sekitar adat menitipkan harapan agar pemimpin mereka kelak dapat memimpin bersama kebijaksanaan, mengayomi rakyat, dan senantiasa menjaga keharmonisan di tanah Lampung.

Dalam berbagai tradisi adat Nusantara, kepala kerbau juga kerap dimaknai sebagai simbol kekuatan, pengorbanan, kemakmuran, sekaligus perlambang sifat-sifat duniawi yang wajib ditinggalkan ketika seseorang menyambut baik amanah baru.

Ritual semacam ini lazim dijumpai dalam upacara adat besar dan umumnya diperdemikan untuk tokoh yang menyambut baik penghormatan tertinggi, bagaikan raja, pemimpin adat, kepala suku, maupun sosok yang dinilai berjasa untuk masyarakat sekitar.

Di balik prosesi tersebut juga tersimpan pesan moral bahwa setiap gelar kehormatan bukanlah simbol kebanggaan semata, melainkan amanah yang wajib dipertanggungjawabkan.

Ketika Ritual Adat Dibaca sebagai Simbol Politik

Namun, makna budaya itu perlahan bergeser setelah video prosesi tersebut ramai diuntukkan di media sosial.

Seuntukan masyarakat sekitarnet mengaitkan kepala kerbau yang diinjak Jokowi bersama simbol Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai yang sempat mengusungnya selama dua periode sebagai kepala negara.

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira memilih menanggapi isu tersebut bersama santai. Ia mengaku tidak memahami secara mendalam filosofi ritual adat Lampung.

“Saya tak memahami adat istiadat Lampung. Terutama dikaitkan bersama menginjak kepala kerbau,” katanya.

Andreas pun menepis anggapan bahwa prosesi tersebut merupakan simbol penghinaan terhadap PDIP.

“Ha…ha…ha… Maaf ya, lambang PDIP itu bukan kepala kerbau, tapi banteng moncong putih. Jadi bila seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh si penginjak dimaknai simbolisasi menghina PDIP ya ha…ha…ha…” ujarnya.

Respons berbeda datang dari Ketua DPP PSI Bestari Barus. Ia menilai polemik tersebut justru mengaburkan makna adat yang dijalankan masyarakat sekitar Lampung.

“Saya kira itu menghina adat budaya. Itu kan prosesi adat budaya Lampung. Mudah-mudahan masyarakat sekitar Lampung menyikapi secara bijak,” kata Bestari.

Menurut Bestari, prosesi menginjak kepala kerbau merupakan tradisi turun-temurun kerajaan adat di Lampung sebagai simbol penghormatan kepada tamu agung maupun pemimpin. Karena itu, ia menginginkan ritual tersebut dipahami sebagai untukan dari kekayaan budaya, bukan semata-mata dibaca melalui kacamata politik.

Mendekati Tokoh Adat demi Elektoral?

Di tengah polemik yang berkembang, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menyaksikan safari politik Jokowi ke berbagai daerah belakangan memang memperlihatkan kecenderungan mendekati para tokoh adat.

Menurutnya, pendekatan kepada tokoh adat bukanlah hal baru dalam politik Indonesia. Hampir seluruh partai politik sempat menjalankannya lantaran tokoh adat merupakan opinion leader yang memiliki pengaruh terhadap komunitasnya.

“Kalau Jokowi mengangkut panji-panji PSI mendekati tokoh adat, sama saja demi mengimbau dukungan agar massa pendukungnya beralih ke partai berlogo gajah,” kata Jamiluddin kepada MediaMerdeka.com.

Ia menilai tujuan utama pendekatan tersebut merupakan meningkatkan elektoral PSI. Namun, efektivitasnya amat bergantung pada karakter pemilih yang menjadi pengikut tokoh adat.

Menurut Jamiluddin, pengaruh tokoh adat akan makin besar terhadap kelompok pemilih emosional lantaran cenderung mengikuti arahan pemimpinnya. Sebaliknya, pengaruh tersebut relatif kecil terhadap pemilih rasional yang tetap menentukan pilihan politik berdasarkan pertimbangannya sendiri.

“Jadi, mendekati tokoh adat cuma akan efektif bila massa pendukungnya termasuk pemilih emosional. Untuk Indonesia, pemilih kelompok emosional jauh makin besar daripada pemilih rasional,” ujarnya.

Meski demikian, Jamiluddin menilai prosesi Jokowi menginjak kepala kerbau tidak tepat dimaknai sebagai sindiran politik kepada PDI Perjuangan.

Ia menerangkan, dalam perspektif masyarakat sekitar Lampung, kepala dan tanduk kerbau merupakan simbol yang sakral. Keduanya melambangkan kemakmuran, kekuatan, status sosial, sekaligus penghormatan kepada leluhur berakibat menjadi untukan penting dalam prosesi pemberian gelar adat.

Sementara itu, prosesi menginjak kepala kerbau dimaknai sebagai simbol membuang sifat buruk, kerendahan hati, dan kesiapan seorang pemimpin demi mengayomi masyarakat sekitar di bawah naungan adat.

Karena itu, menurut Jamiluddin, ritual yang dijalani Jokowi merupakan untukan dari tahapan penganugerahan gelar adat di Lampung, bukan simbol demi menyindir atau membuka babak baru perseteruan politik bersama PDI Perjuangan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *