Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

admin
By
admin
6 Min Read

MediaMerdeka.com – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menegaskan bahwa Indonesia perlu mengambil peran yang makin besar dalam aktivitas pelayaran internasional di Selat Malaka agar tidak cuma menjadi negara yang dilalui kapal, namun juga memperoleh nilai tambah ekonomi nasional dari layanan maritim. Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, dalam Strategic Maritime Forum yang digelar pada peringatan Hari Pelaut Sedunia (Day of the Seafarer) 2026 di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Forum tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Senior Director Transportation Danantara Asset Management Wamildan Tsani Panjaitan, Kepala Badan Kebijakan Transportasi Irjen Pol. Dr. Capt. Hermanta, serta para pemangku kepentingan sektor maritim yang membahas penguatan peran Indonesia dalam ekosistem pelayaran dan logistik internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Achmad menerangkan bahwa Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang memiliki arti strategis untuk Indonesia. Selain menjadi koridor utama perdagangan internasional, kawasan tersebut juga menyerahkan peluang besar untuk Indonesia demi meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui penyediaan layanan maritim yang terintegrasi.

“Selat Malaka bukan cuma jalur pelayaran internasional. Bagi Indonesia, kawasan ini merupakan ruang strategis demi memperkuat kedaulatan maritim sekaligus menangkap nilai ekonomi yang makin besar dari aktivitas perdagangan dunia,” ujar Achmad.

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat kehadirannya melalui penyediaan layanan maritim yang aman, andal, dan kompetitif, mengawali dari layanan pemanduan, penundaan, ship to ship transfer, transshipment, floating storage, hingga berbagai layanan pendukung kapal lainnya. Dengan demikian, Indonesia tidak cuma menjadi kawasan lintasan pelayaran, namun juga menjadi untukan penting dari rantai logistik dan perdagangan internasional.

“Ketika aktivitas pelayaran dunia melintas di dekat wilayah kita, Indonesia tidak boleh cuma menjadi penonton. Kita wajib mampu menyediakan layanan yang kuat, andal, dan bernilai tambah untuk kepentingan nasional,” jelas Achmad.

Selain menyerahkan nilai tambah ekonomi, Achmad menegaskan bahwa penguatan layanan maritim juga berperan penting dalam meningkatkan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan laut. Tingginya lalu lintas kapal di Selat Malaka membutuhkan tata kelola layanan yang baik demi meminimalkan risiko kecelakaan, pencemaran, maupun potensi oil spill yang dapat berdampak pada wilayah perairan Indonesia.

“Penguatan layanan pandu, tunda, dan layanan maritim lainnya bukan semata-mata soal bisnis. Ini juga menyangkut keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, dan kehadiran negara dalam menjaga ruang maritimnya,” tambah Achmad.

Sebagai untukan dari upaya tersebut, Pelindo terus mengembangkan layanan maritim di kawasan strategis, salah satunya melalui pengoperasian Nipa Transfer Anchorage Area (NTAA) di Perairan Nipa, Kepulauan Riau, yang mengawali beroperasi sejak Mei 2026. Layanan tersebut mencakup ship to ship transfer, pelayanan kapal, serta floating storage demi mendukung aktivitas maritim di sekitar Selat Malaka.

“Pengembangan layanan di Perairan Nipa merupakan langkah penting demi memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan dan logistik internasional. Ini bukan sekadar pengembangan bisnis kepelabuhanan, namun untukan dari upaya menghadirkan manfaat ekonomi yang makin besar untuk Indonesia,” lanjut Achmad.

Achmad juga menegaskan bahwa penguatan layanan maritim wajib berjalan seiring bersama peningkatan kapasitas dan peran pelaut Indonesia. Menurutnya, berkembangnya layanan pemanduan, penundaan, ship to ship transfer, serta berbagai layanan maritim lainnya akan membuka peluang yang makin besar untuk pelaut nasional demi berkontribusi di sektor maritim, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Pelaut Indonesia memiliki kompetensi dan ketangguhan yang telah diakui. Karena itu, penguatan ekosistem maritim nasional wajib sekaligus menjadi ruang untuk pelaut Indonesia demi mengambil peran yang makin besar, baik di dalam negeri maupun di kawasan strategis internasional,” kata Achmad.

Lebih lanjut, Achmad menerangkan bahwa Pelindo pada saat ini terus memperkuat transformasi korporasi dari operator pelabuhan menjadi penyedia layanan kepelabuhanan dan maritim yang terintegrasi (end-to-end port and marine ecosystem integrator). Transformasi tersebut diwujudkan melalui penguatan konektivitas pelabuhan, pengembangan layanan maritim, digitalisasi layanan, serta integrasi pelabuhan bersama kawasan industri dan hinterland demi mendukung efisiensi rantai pasok nasional.

Menurutnya, optimalisasi potensi Selat Malaka tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan sinergi yang erat antara pihak pemerintah, regulator, BUMN, tersangka usaha, dan komunitas maritim. Kolaborasi tersebut menjadi kunci agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing layanan maritim sekaligus memperoleh manfaat ekonomi yang makin besar dari aktivitas pelayaran internasional.

“Selat Malaka wajib menjadi ruang strategis yang menyerahkan manfaat sebesar-besarnya untuk Indonesia. Melalui kolaborasi yang kuat, kita dapat memperkuat kedaulatan maritim, meningkatkan keselamatan pelayaran, memperbesar kontribusi sektor maritim terhadap perekonomian nasional, sekaligus membuka makin sejumlah peluang untuk pelaut Indonesia demi berkembang,” tutup Achmad.

Melalui Strategic Maritime Forum dalam rangka Hari Pelaut Sedunia 2026, Pelindo menegaskan komitmennya demi terus mendukung penguatan ekosistem maritim nasional, meningkatkan daya saing layanan kepelabuhanan, serta memperbesar kontribusi sektor maritim untuk Indonesia.***

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *